EPISTEMOLOGI
Diajukan sebagai salah satu
syarat tugas akhir pada mata kuliah
Filsafat Ilmu
Disusun
oleh:
Pratiwi Rahayu
1201150
Pendidikan
Bahasa Inggris I-B
SEKOLAH
PASCA SARJANA
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
PROGRAM
PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS
2012
DAFTAR
ISI
DAFTAR ISI
..................................................................................................
i
BAB I
Pendahuluan
..................................................................................................
1
A.
Latar Belakang
..................................................................................
1
B.
Rumusan Masalah
............................................................................. 1
BAB II
Pembahasan
..................................................................................................
2
A.
Pengertian
Epistemologi ..................................................................
2
B.
Kajian
Epistemologi
......................................................................... 4
C.
Implikasi
Epistemologi dalam Dunia Pendidikan ........................... 6
BAB III
Kesimpulan
..................................................................................................
8
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................
9
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pengetahuan merupakan
hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia, karena melalui pengetahuan manusia dapat
menjawab semua pertanyaan yang muncul dalam kehidupannya (Suriasumantri: 1986).
Hal ini terlihat bahwa pengetahuan dalam kehidupan manusia sangatlah erat
kaitannya. Oleh karena itu, segala hal yang dipertanyakan manusia mengenai
permasalahan yang dihadapi manusia dalam kehidupannya akan terjawab dalam
pengetahuan.
Berdasarkan Ataqauliyah (2007) mengenai sejarah yang mencatat bahwa ilmu pengetahuan lahir dan
mulai berkembang di Yunani. Pada zaman Yunani kuno tersebut, terdapat sebuah golongan
yang disebut dengan golongan Sophis. Golongan Sophis disebut-sebut sebagai golongan
yang bertanggung jawab mengenai segala pertanyaan yang berkaitan dengan
pengetahuan. Pada zaman ini, masyarakat mulai mempertanyakan secara sadar mengenai
pengetahuan dan mulai menyadari akan pentingnya
pengetahuan bagi kehidupan mereka. Tidak hanya itu, masuknya kaum
nasrani ke benua Eropa menjadi faktor lain berkembangnya pengetahuan. Datangnya
kaum nasrani ke dalam benua Eropa menimbulkan dua golongan pada masa tersebut,
yaitu kaum supranatural dan rasio-natural supranatural. Kedua golongan tersebut
memiliki pandangan berbeda mengenai pengetahuan. Golongan supranatural merupakan
golongan agama yang menganggap bahwa pengetahuan harus di dukung pula dengan
adanya kebenaran. Di sisi lain, golongan rasio-natural supranatural beranggapan
bahwa pengetahuan harus pula di dukung oleh akal pikiran manusia itu sendiri.
Dari sejarah tersebut maka lahirlah suatu cabang dalam filsafat yang disebut
dengan epistemologi.
B. Rumusan Masalah
Ada beberapa pertanyaan yang
akan dibahas dalam makalah ini, antara lain:
1.
Apa yang dimaksud dengan epistemologi?
2.
Apa saja kajian dalam epsitemologi?
3.
Bagaimana implikasi epistemologi dalam dunia
pendidikan?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Epistemologi
Epistemologi berasal dari bahasa Yunani yang
menggabungkan dua kalimat yaitu episteme (pengetahuan) dan logos (teori) (Endraswara,
2012:118). Berdasarkan beberapa teori menurut para ahli, epistemologi dapat
diartikan sebagai berikut: menurut Endrawasara (2012) epistemologi adalah suatu
cabang dari filsafat yang mengkaji dan membahas tentang batasan dasar dan
fondasi, alat, tolak ukur, keabsahan, validitas, dan kebenaran ilmu, makrifat, dan
pengetahuan manusia. Di tambahkan oleh Dr Dian (unknown) dalam bukunya Pengantar Filsafat bahwa epistemologi
adalah suatu
cabang filsafat yang bersangkut paut dengan teori pengetahuan. Epistemologi
merupakan pembahasan mengenai bagaimana kita mendapatkan pengetahuan: apakah
sumber-sumber pengetahuan ? Apakah hakikat, jangkauan dan ruang lingkup
pengetahuan? Sampai tahap mana pengetahuan yang mungkin untuk ditangkap manusia
(William S.Sahakian dan Mabel Lewis Sahakian: 1965, dalam Suriasumantri: 1986).
Di sisi lain Syahrir (2012) mengatakan
bahwa epistemologi adalah suatu cabang ilmu yang membahas bagaimana cara
memperoleh ilmu pengetahuan. Dari beberapa pemaparan tentang pengertian
epistemologi tersebut, dapat disimpulkan bahwa epistemologi adalah salah satu
cabang dari filsafat yang mengkaji tentang terjadinya pengetahuan, sumber
pengetahuan, asal mula pengetahuan, metode dan cara memperoleh pengetahuan yang
benar.
Pada dasarnya
epistemologi merupakan cabang dari filsafat yang mempelajari langkah, proses,
dan upaya menenggarai masalah-masalah filosofi yang mengitari teori ilmu
pengetahuan (Endraswara: 2012). Hal ini menjelaskan bahwa epistemologi membahas
mengenai segala sesuatu yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan, dari mulai
langkah, proses hingga membahas mengenai validitas pengetahuan itu sendiri. Untuk
mendapatkan pengetahuan, ada beberapa alat yang dapat digunakan oleh manusia
seperti (sumber-sumber pengetahuan): pengalaman indera (sense experience), nalar
(reason), otoritas (authority), intuisi (intuition), wahyu (revelation) dan
keyakinan (faith) (Musnur:2008). Ditambahkan
oleh Adrah (2010) yang menjelaskan bahwa ada beberapa sumber-sumber pengetahuan
yang dapat digunakan oleh manusia untuk memperoleh pengetahuan antara lain:
indera, melalui indera manusia dapat merasakan pengalamn langsung secara
empiris. Otoritas dan intuisi pun
dianggap sebagai sumber yang sangat penting untuk manusia sebagai dalam
memperoleh pengetahuan karena intuisi di dapatkan melalui proses penalaran
tertentu dan otoritas merupakan suatu kesaksian untuk menemukan apa yang benar
dan apa yang salah.
Di sisi lain, terdapat beberapa
metode dalam dunia epistemologi yang dapat dipelajari oleh manusia berdasarkan
Hamied dan Komar (2012), antara lain:
a.
Empirisme, yaitu suatu cara atau metode keilmuan,
untuk mencari pengetahuan melalui pengamatan dan pengalaman. Pengamatan dan
pengalaman ini di dapatkan oleh manusia melalui pancaindranya. Ditambahkan oleh
Endraswara (2012) bahwa tokoh-tokoh yang turut andil dalam metode empirisme ini
yaitu John Locke (1632-1704), David Hume (1711-1776). Dalam hal ini John Lock dianggap sebagai bapak
empirisme. Menurutnya, akal pikiran manusia itu kosong kemudian di isi oleh
pengetahuan yang mereka dapat melalui pengalaman-pengalaman yang mereka alami
sendiri, tentunya pengalaman setiap orang itu akan berbeda-beda satu dengan
lainnya.
b.
Rasionalisme, yaitu suatu cara atau metode keilmuan
yang berpandangan bahwa dalam memperoleh pengetahuan terletak pada akal pikiran
atau pada nalar (reasoning). Para
tokoh yang menganut rasionalisme memiliki pendapat yang kontradiksi dengan
empirisme, mereka meyakini bahwa pengalaman seseorang tidak berpengaruh
terhadap pengetahuan manusia melainkan melalui akal pikiran dan nalar mereka
masing-masing.
c.
Fenomenalisme, yaitu ilmu pengetahuan tentang apa
yang tampak atau ilmu yang mempelajari suatu yang tampak atau menampakkan, yang
merupakan realitas sendiri yang tampak. Tokoh perintis dalam fenomenalisme
adalah Immanuel Kant, ia menyatakan bahwa pengetahuan yang diperoleh oleh
manusia diperoleh dari fenomena atau dapat dikatakan sebagai sesuatu yang
tampak.
d.
Intuisionisme, yaitu suatu aliran dalam filsafat
yang menganggap adanya kemampuan tinggi yang dimiliki manusia, selain
pengalaman yang diperoleh dengan bantuan pancaindra. Salah satu tokoh yang
mengemukakan tentang intuisionisme adalah Henry Bergson. Ia menyatakan bahwa
pengalaman baru yang diperoleh oleh sesorang diperoleh secara langsung dan
seketika secara indrawi.
e.
Dialektika, yaitu hal berbahasa dan bernalar dengan
dialog sebagai cara untuk menyelidiki masalah. G.W. F. Hagel sebagai tokoh
dalam aliran dialektika mengemukakan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini
akan berubah akibat dari pertentangan antara thesis dan anti-thesis yang menimbulkan
sintesis.
B. Kajian Epistemologi
Ellis (1936) menyatakan bahwa sumber yang dikaji
dalam epistemologi adalah: terdiri dari apa sajakah pengetahuan itu, apa yang
akan kita ketahui, apa saja objek dalam pengetahuan dan apa kebenaran itu
sendiri. Untuk menjawab serangkaian pertanyaan tersebut dan untuk mendapatkan
pengetahuan yang benar perlulah seseorang melakukan metode ilmiah, karena pada
hakikatnya kita mengharapkan jawaban yang benar dan tidak sembarang atas segala
jawaban yang timbul mengenai pengetahuan (Suriasumantri: 1986). Seperti yang
dikutip dalam buku Suriasumantri (1986) bahwa metode ilmiah merupakan cara yang
dilakukan ilmu dalam menyusun pengetahuan yang benar atau dapat dikatakan
sebagai suatu prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. Setelah
melakukan serangkaian metode ilmiah, maka kita akan mendapatkan suatu kebenaran.
Terdapat tiga macam teori untuk mengungkapkan suatu kebenaran (validitas
kebenaran), yaitu (a) teori korespondensi, terdapat persamaan atau persesuaian
antara gagasan dengan kenyataan atau realita dan berkorespondensi dengan
kenyataan sebelumnya, (b) teori koherensi, terdapat keterpaduan antara gagasan
yang satu dengan yang lain, (c) teori pragmatis, yang dianggap benar adalah
yang berguna (Endraswara, 2012:126). Teori-teori tersebut sebagai acauan kita
dalam menuntukan suatu kebenaran dalam menentukan validitas kebenaran suatu pengetahuan.
Seperti telah dipaparkan sebelumnya bahwa ilmu
pengetahuan merupakan cara untuk menjawab serangkaian pertanyaan yang diajukan
oleh manusia mengenai persoalan dalam kehidupan, dan dalam memperoleh
pengetahuan yang benar seseorang perlu melakukan serangkaian proses yang
disebut dengan metode ilmiah. Metode ilmiah menggabungkan cara berpikir
deduktif dan cara induktif dalam membangun pengetahuannya (Suriasumantri:1986).
Dalam buku yang sama Suriasumantri (1986) pun
berpendapat bahwa berpikir deduktif memberikan sifat yang rasional kepada
pengetahuan ilmiah dan bersifat konsisten dengan pengetahuan yang telah
dikumpulkan sebelumnya. Bahwa pengetahuan disusun melalui serangkaian
pengetahuan yang telah dikumpul sebelumnya. Berpikir deduktif merupakan cara
berfikir secara empirik yang berdasarkan teori kebenaran koherensi, tetapi
berpikir dedukti dengan teori kebenaran koherensi tidak dapat memberikan
kesimpulan. Hal tersebut didukung oleh pernyataan Suriasumantri (1986) bahwa
teori deduktif dengan kebenaran koherensi tidak mampu memberikan kesimpulan
yang final karena sesuai dengan hakikat rasionalisme yang bersifat pluraistik. Di
sisi lain berpikir induktif bepatokan terhadap teori korespondensi, bahwa
sesuatu dianggap benar apabila materi yang terkandung dalam pernyataan itu
berkesusuaian dengan obyek yang dituju oleh pernyataan tersebut. Sebagai contoh
“Yogyakarta berada di Pulau Jawa”, pernyataan tersebut benar adanya karena
secara faktual berkorespondensi terhadap objek yang dituju bahwa memang benar
adanya Yogyakarta berada di Pulau Jawa. Berdasarkan penjelasan tersebut, maka
metode ilmiah berusaha menggabungkan antara berpikir secara deduktif
(pendekatan rasional) dengan berpikir secara induktif (pendekatan empirik).
Suriasumantri (1986) menambahkan bahwa ada
beberapa tahapan yang perlu dilakukan oleh seorang atau peneliti dalam
melakukan metode ilmiah, antara lain:
a.
Perumusan masalah
Dalam perumusan masalah, seseorang atau peneliti
wajib menentukan objek yang jelas batasannya yang akan dikaji dalam bentuk
pertanyaan.
b.
Penyusunan kerangka berpikir dalam pengajuan
hipotesis
Kerangka berpikir disusun berdasarkan premis-premis
ilmiah yang telah teruji kebenarannya dan harus tetap berkaitan dengan
permasalahan.
c.
Perumusan hipotesis
Perumusan hipotesis merupakan jawaban sementara dari
pertanyaan yang diajukan oleh peneliti yang hasilnya berupa kesimpulan dari
kerangka berpikir.
d.
Pengujian hipotesis
Dalam tahap ini, seorang peneliti mengumpulkan
fakta-fakta yang ada yang mendukung hipotesisnya.
e.
Penarikan kesimpulan
Tahap terakhir ini dapat memperlihatkan hasil dari
hipotesis yang telah dibuat dalam tahap sebelumnya, apakah diterima atau
ditolak.
Setelah melakukan serangkaian
proses dalam metode ilmiah, barulah kita sampai pada kesimpulan mengenai suatu
kebenaran, apakah yang kita sebut sebagai pengetahuan tersebut adalah ilmu atau
tidak. Dalam melakukan metode ilmiah, banyak manfaat yang dapat kita ambil.
Kita tidak hanya menjalankan proses penemuan pengetahuan saja tetapi secara
sosial, kita dapat bermanfaat untuk ilmuwan lain, melalui metode ilmiah kita
dapat mengkomunikasikan penemuan kita terhadap ilmuwan lain. Hal tersebut
diperkuat oleh pernyataan Suriasumantri (1986) yang mengingatkan bahwa ilmu
merupakan pengetahuan milik umum dimana teori ilmiah yang ditemukan secara
individual dikaji, diulangi, dan dimanfaatkan secara komunal.
C.
Implikasi
Epistemologi dalam Dunia Pendidikan
Di sisi lain, epistemologi pun berimplikasi dalam
dunia pendidikan. Epistemologi
diperlukan antara lain dalam hubungan dengan penyusunan dasar kurikulum.
Kurikulum yang lazimnya diartikan sebagai sarana untuk mencapai tujuan
pendidikan, dapat diumpamakan sebagai jalan raya yang perlu dilewati oleh siswa
atau murid dalam usahanya untuk mengenal dan memahami pengetahuan agar mereka berhasil dalam mencapai tujuan perlu
diperkenalkan sedikit demi sedikit hakikat dari pengetahuan (Imam Barnadib dalam Uyoh
Sadulloh, 2009:87). Dalam hal ini, sebagai seorang pendidik wajib mengetahui pentingnya
pemahaman akan epistemologi karena pengetahuan tersebut dapat diaplikasikan
dalam dunia pendidikan yakni dalam penyusunan dasar kurikulum.
Tidak hanya itu, hasil dari penyelenggaraan
pendidikan yaitu kecerdasan intelektual seperti kemampuan berkreasi untuk
menciptakan segala perubahan yang berguna merupakan suatu kebenaran pendidikan
secara epistemologis. Seperti yang dipaparkan oleh Suparlan (2009) bahwa
kebenaran pendidikan secara epistemologis mengarah pada ouput dari seluruh
rangakain pendidikan yang dpaat berguna bagi kelangsungan dan perkembagan
kehidupan sehari-hari. Kebenaran itu sendiri dapat diukur melalui keberhasilan
dalam menyelesaikan jenjang-jenjang pendidikan formal dan terbentuk watak
maupun sikap ilmiah dari seseorang (Suparlan:2009).
Sehingga, semua pihak yang terkait dalam dunia
pendidikan sangat penting untuk mempelajari epistemologi (Adrah:2010). Seperti
telah dijelaskan sebelumnya bahwa semua pihak harus memahami epistemologi dalam
filsafat pengetahuan karena dengan mempelajari hal tersebut akan mengantar kita
pada cara berpikir yang rasional dan dapat mengambil keputusan dan kesimpulan
secara logis dan sistematis.
BAB III
KESIMPULAN
Epistemologi adalah salah satu
cabang dari filsafat yang mengkaji tentang cara, upaya dan langkah dalam
mendapatkan pengetahuan. Cara mendapatkan pengetahuan yang benar perlu adanya
langkah-langkah ilmiah yang disebut dengan metode ilmiah dengan cara berpikir
gabungan antara berpikir deduktif dan induktif. Proses dalam metode ilmiah
terdiri dari: perumusan masalah, penyusunan kerangka berpikir, perumusan
hipotesis, pengujian hipotesis dan penarikan kesimpulan. Setelah melakukan
serangkaian langkah dalam metode ilmiah, barulah di dapatkan ilmu pengetahuan
yang dapat dikatakan benar. Epistemologi dalam dunia pendidikan memiliki dampak
yang sangat baik terutama dalam penyusunan kurikulum, sehingga semua pihak yang
terkait dalam dunia pendidikan sangatlah penting dalam memahami filsafat
pengetahuan terutama kajian epistemologi.
Daftar Pustaka
Adrah, Nirmawaty. 2010. Hakikat
Filsafat Pengetahuan (Epistemologi). Jurnal Bahasa dan Sastra, Vol.II,
No.5, Juli 2010. Tersedia dari: http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/251014463_2086_5511.pdf.
Diakses pada 4 Januari 2013.
Astaqauliyah. 2007. Epistemologi;
Pengertian, Sejarah dan Ruang Lingkup. Tersedia dari: http://Astaqauliyah.com/2007/05/epistemologi-pengertian-sejarah-dan-ruang
lingkup/. Diakses pada 4 Januari 2013.
Dr. Dian. Pengantar Filsafat. UIN
Sunan Gunung Djati. Bandung.
Ellis, John M. 1936. Language,
Thought, and Logic. United States of America: Northwestern University Press.
Endraswara, Suwardi. 2012. Filsafat Ilmu Konsep, Sejarah, dan
Pengembangan Metode Ilmiah. Yogyakarta:
C A P S.
Junjun, Suriasumantri. 1986. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Jakarta:
Pustaka Sinar Harapan.
Hamied, Abdul Fuad dan Oong
Komar. 2012. Filsafat Ilmu. Sekolah
Pascasarjana Universitas Pendidikan
Indonesia. Bandung.
Musnur, Hery. 2008. Epitemologi Pendidikan Islam:Melacak
Metodologi Pengetahuan Perguruan Tinggi Islam Klasik. Jurnal Pemikiran Alternatif Pendidikan Vol.13, No.3 2008.
Tersedia dari: http://filsafatpengetahuan.webs.com/apps/blog/show/5037882-epistemologi-pendidikan-islam.
Diakses pada 4 Januari 2013.
Sadulloh,
Uyoh. 2009. Pengantar Filsafat
Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Suhartono, Suparlan. 2009. Filsafat Pendidikan: Manusia, Filsafat, dan
Pendidikan. Ar-Ruzz Media
Syahrir. 2012. Konsep
Epistemologi Ibn Hazm. STAIN Datokarama Palu. Tersedia dari: http://hunafa.stain-palu.ac.id/wp-content/uploads/2012/02/2-Syahrir.pdf
. Diakses pada 4 Januari 2013.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar