Rabu, 26 Juni 2013

FILSAFAT ILMU

EPISTEMOLOGI
Diajukan sebagai salah satu syarat tugas akhir pada mata kuliah
Filsafat Ilmu








Disusun oleh:
Pratiwi Rahayu
1201150
Pendidikan Bahasa Inggris I-B


SEKOLAH PASCA SARJANA
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
PROGRAM PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS
2012




DAFTAR ISI

DAFTAR ISI .................................................................................................. i
BAB I
Pendahuluan .................................................................................................. 1
A.    Latar Belakang .................................................................................. 1
B.     Rumusan Masalah ............................................................................. 1

BAB II
Pembahasan .................................................................................................. 2
A.    Pengertian Epistemologi ..................................................................  2
B.     Kajian Epistemologi ......................................................................... 4
C.     Implikasi Epistemologi dalam Dunia Pendidikan ...........................  6

BAB III
Kesimpulan .................................................................................................. 8
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 9














BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang
Pengetahuan merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia,  karena melalui pengetahuan manusia dapat menjawab semua pertanyaan yang muncul dalam kehidupannya (Suriasumantri: 1986). Hal ini terlihat bahwa pengetahuan dalam kehidupan manusia sangatlah erat kaitannya. Oleh karena itu, segala hal yang dipertanyakan manusia mengenai permasalahan yang dihadapi manusia dalam kehidupannya akan terjawab dalam pengetahuan.
Berdasarkan Ataqauliyah (2007) mengenai sejarah yang  mencatat bahwa ilmu pengetahuan lahir dan mulai berkembang di Yunani. Pada zaman Yunani kuno tersebut, terdapat sebuah golongan yang disebut dengan golongan Sophis. Golongan Sophis disebut-sebut sebagai golongan yang bertanggung jawab mengenai segala pertanyaan yang berkaitan dengan pengetahuan. Pada zaman ini, masyarakat mulai mempertanyakan secara sadar mengenai pengetahuan dan mulai menyadari akan pentingnya  pengetahuan bagi kehidupan mereka. Tidak hanya itu, masuknya kaum nasrani ke benua Eropa menjadi faktor lain berkembangnya pengetahuan. Datangnya kaum nasrani ke dalam benua Eropa menimbulkan dua golongan pada masa tersebut, yaitu kaum supranatural dan rasio-natural supranatural. Kedua golongan tersebut memiliki pandangan berbeda mengenai pengetahuan. Golongan supranatural merupakan golongan agama yang menganggap bahwa pengetahuan harus di dukung pula dengan adanya kebenaran. Di sisi lain, golongan rasio-natural supranatural beranggapan bahwa pengetahuan harus pula di dukung oleh akal pikiran manusia itu sendiri. Dari sejarah tersebut maka lahirlah suatu cabang dalam filsafat yang disebut dengan epistemologi.
B.  Rumusan Masalah
Ada beberapa pertanyaan yang akan dibahas dalam makalah ini, antara lain:
1.      Apa yang dimaksud dengan epistemologi?
2.      Apa saja kajian dalam epsitemologi?
3.      Bagaimana implikasi epistemologi dalam dunia pendidikan?
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Epistemologi
Epistemologi berasal dari bahasa Yunani yang menggabungkan dua kalimat yaitu episteme (pengetahuan) dan logos (teori) (Endraswara, 2012:118). Berdasarkan beberapa teori menurut para ahli, epistemologi dapat diartikan sebagai berikut: menurut Endrawasara (2012) epistemologi adalah suatu cabang dari filsafat yang mengkaji dan membahas tentang batasan dasar dan fondasi, alat, tolak ukur, keabsahan, validitas, dan kebenaran ilmu, makrifat, dan pengetahuan manusia. Di tambahkan oleh Dr Dian (unknown) dalam bukunya Pengantar Filsafat bahwa epistemologi adalah suatu cabang filsafat yang bersangkut paut dengan teori pengetahuan. Epistemologi merupakan pembahasan mengenai bagaimana kita mendapatkan pengetahuan: apakah sumber-sumber pengetahuan ? Apakah hakikat, jangkauan dan ruang lingkup pengetahuan? Sampai tahap mana pengetahuan yang mungkin untuk ditangkap manusia (William S.Sahakian dan Mabel Lewis Sahakian: 1965, dalam Suriasumantri: 1986). Di sisi lain  Syahrir (2012) mengatakan bahwa epistemologi adalah suatu cabang ilmu yang membahas bagaimana cara memperoleh ilmu pengetahuan. Dari beberapa pemaparan tentang pengertian epistemologi tersebut, dapat disimpulkan bahwa epistemologi adalah salah satu cabang dari filsafat yang mengkaji tentang terjadinya pengetahuan, sumber pengetahuan, asal mula pengetahuan, metode dan cara memperoleh pengetahuan yang benar.
            Pada dasarnya epistemologi merupakan cabang dari filsafat yang mempelajari langkah, proses, dan upaya menenggarai masalah-masalah filosofi yang mengitari teori ilmu pengetahuan (Endraswara: 2012). Hal ini menjelaskan bahwa epistemologi membahas mengenai segala sesuatu yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan, dari mulai langkah, proses hingga membahas mengenai validitas pengetahuan itu sendiri. Untuk mendapatkan pengetahuan, ada beberapa alat yang dapat digunakan oleh manusia seperti (sumber-sumber pengetahuan): pengalaman indera (sense experience), nalar (reason), otoritas (authority), intuisi (intuition), wahyu (revelation) dan keyakinan (faith) (Musnur:2008).   Ditambahkan oleh Adrah (2010) yang menjelaskan bahwa ada beberapa sumber-sumber pengetahuan yang dapat digunakan oleh manusia untuk memperoleh pengetahuan antara lain: indera, melalui indera manusia dapat merasakan pengalamn langsung secara empiris. Otoritas  dan intuisi pun dianggap sebagai sumber yang sangat penting untuk manusia sebagai dalam memperoleh pengetahuan karena intuisi di dapatkan melalui proses penalaran tertentu dan otoritas merupakan suatu kesaksian untuk menemukan apa yang benar dan apa yang salah.
Di sisi lain, terdapat beberapa metode dalam dunia epistemologi yang dapat dipelajari oleh manusia berdasarkan Hamied dan Komar (2012), antara lain:
a.       Empirisme, yaitu suatu cara atau metode keilmuan, untuk mencari pengetahuan melalui pengamatan dan pengalaman. Pengamatan dan pengalaman ini di dapatkan oleh manusia melalui pancaindranya. Ditambahkan oleh Endraswara (2012) bahwa tokoh-tokoh yang turut andil dalam metode empirisme ini yaitu John Locke (1632-1704), David Hume (1711-1776).  Dalam hal ini John Lock dianggap sebagai bapak empirisme. Menurutnya, akal pikiran manusia itu kosong kemudian di isi oleh pengetahuan yang mereka dapat melalui pengalaman-pengalaman yang mereka alami sendiri, tentunya pengalaman setiap orang itu akan berbeda-beda satu dengan lainnya.
b.      Rasionalisme, yaitu suatu cara atau metode keilmuan yang berpandangan bahwa dalam memperoleh pengetahuan terletak pada akal pikiran atau pada nalar (reasoning). Para tokoh yang menganut rasionalisme memiliki pendapat yang kontradiksi dengan empirisme, mereka meyakini bahwa pengalaman seseorang tidak berpengaruh terhadap pengetahuan manusia melainkan melalui akal pikiran dan nalar mereka masing-masing.
c.       Fenomenalisme, yaitu ilmu pengetahuan tentang apa yang tampak atau ilmu yang mempelajari suatu yang tampak atau menampakkan, yang merupakan realitas sendiri yang tampak. Tokoh perintis dalam fenomenalisme adalah Immanuel Kant, ia menyatakan bahwa pengetahuan yang diperoleh oleh manusia diperoleh dari fenomena atau dapat dikatakan sebagai sesuatu yang tampak.
d.      Intuisionisme, yaitu suatu aliran dalam filsafat yang menganggap adanya kemampuan tinggi yang dimiliki manusia, selain pengalaman yang diperoleh dengan bantuan pancaindra. Salah satu tokoh yang mengemukakan tentang intuisionisme adalah Henry Bergson. Ia menyatakan bahwa pengalaman baru yang diperoleh oleh sesorang diperoleh secara langsung dan seketika secara indrawi.
e.       Dialektika, yaitu hal berbahasa dan bernalar dengan dialog sebagai cara untuk menyelidiki masalah. G.W. F. Hagel sebagai tokoh dalam aliran dialektika mengemukakan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini akan berubah akibat dari pertentangan antara thesis dan anti-thesis yang menimbulkan sintesis.
B.  Kajian Epistemologi
Ellis (1936) menyatakan bahwa sumber yang dikaji dalam epistemologi adalah: terdiri dari apa sajakah pengetahuan itu, apa yang akan kita ketahui, apa saja objek dalam pengetahuan dan apa kebenaran itu sendiri. Untuk menjawab serangkaian pertanyaan tersebut dan untuk mendapatkan pengetahuan yang benar perlulah seseorang melakukan metode ilmiah, karena pada hakikatnya kita mengharapkan jawaban yang benar dan tidak sembarang atas segala jawaban yang timbul mengenai pengetahuan (Suriasumantri: 1986). Seperti yang dikutip dalam buku Suriasumantri (1986) bahwa metode ilmiah merupakan cara yang dilakukan ilmu dalam menyusun pengetahuan yang benar atau dapat dikatakan sebagai suatu prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. Setelah melakukan serangkaian metode ilmiah, maka kita akan mendapatkan suatu kebenaran. Terdapat tiga macam teori untuk mengungkapkan suatu kebenaran (validitas kebenaran), yaitu (a) teori korespondensi, terdapat persamaan atau persesuaian antara gagasan dengan kenyataan atau realita dan berkorespondensi dengan kenyataan sebelumnya, (b) teori koherensi, terdapat keterpaduan antara gagasan yang satu dengan yang lain, (c) teori pragmatis, yang dianggap benar adalah yang berguna (Endraswara, 2012:126). Teori-teori tersebut sebagai acauan kita dalam menuntukan suatu kebenaran dalam menentukan validitas kebenaran suatu pengetahuan.
Seperti telah dipaparkan sebelumnya bahwa ilmu pengetahuan merupakan cara untuk menjawab serangkaian pertanyaan yang diajukan oleh manusia mengenai persoalan dalam kehidupan, dan dalam memperoleh pengetahuan yang benar seseorang perlu melakukan serangkaian proses yang disebut dengan metode ilmiah. Metode ilmiah menggabungkan cara berpikir deduktif dan cara induktif dalam membangun pengetahuannya (Suriasumantri:1986).
Dalam buku yang sama Suriasumantri (1986) pun berpendapat bahwa berpikir deduktif memberikan sifat yang rasional kepada pengetahuan ilmiah dan bersifat konsisten dengan pengetahuan yang telah dikumpulkan sebelumnya. Bahwa pengetahuan disusun melalui serangkaian pengetahuan yang telah dikumpul sebelumnya. Berpikir deduktif merupakan cara berfikir secara empirik yang berdasarkan teori kebenaran koherensi, tetapi berpikir dedukti dengan teori kebenaran koherensi tidak dapat memberikan kesimpulan. Hal tersebut didukung oleh pernyataan Suriasumantri (1986) bahwa teori deduktif dengan kebenaran koherensi tidak mampu memberikan kesimpulan yang final karena sesuai dengan hakikat rasionalisme yang bersifat pluraistik. Di sisi lain berpikir induktif bepatokan terhadap teori korespondensi, bahwa sesuatu dianggap benar apabila materi yang terkandung dalam pernyataan itu berkesusuaian dengan obyek yang dituju oleh pernyataan tersebut. Sebagai contoh “Yogyakarta berada di Pulau Jawa”, pernyataan tersebut benar adanya karena secara faktual berkorespondensi terhadap objek yang dituju bahwa memang benar adanya Yogyakarta berada di Pulau Jawa. Berdasarkan penjelasan tersebut, maka metode ilmiah berusaha menggabungkan antara berpikir secara deduktif (pendekatan rasional) dengan berpikir secara induktif (pendekatan empirik).
Suriasumantri (1986) menambahkan bahwa ada beberapa tahapan yang perlu dilakukan oleh seorang atau peneliti dalam melakukan metode ilmiah, antara lain:


a.       Perumusan masalah
Dalam perumusan masalah, seseorang atau peneliti wajib menentukan objek yang jelas batasannya yang akan dikaji dalam bentuk pertanyaan.
b.      Penyusunan kerangka berpikir dalam pengajuan hipotesis
Kerangka berpikir disusun berdasarkan premis-premis ilmiah yang telah teruji kebenarannya dan harus tetap berkaitan dengan permasalahan.
c.       Perumusan hipotesis
Perumusan hipotesis merupakan jawaban sementara dari pertanyaan yang diajukan oleh peneliti yang hasilnya berupa kesimpulan dari kerangka berpikir.
d.      Pengujian hipotesis
Dalam tahap ini, seorang peneliti mengumpulkan fakta-fakta yang ada yang mendukung hipotesisnya.
e.         Penarikan kesimpulan
Tahap terakhir ini dapat memperlihatkan hasil dari hipotesis yang telah dibuat dalam tahap sebelumnya, apakah diterima atau ditolak.
Setelah melakukan serangkaian proses dalam metode ilmiah, barulah kita sampai pada kesimpulan mengenai suatu kebenaran, apakah yang kita sebut sebagai pengetahuan tersebut adalah ilmu atau tidak. Dalam melakukan metode ilmiah, banyak manfaat yang dapat kita ambil. Kita tidak hanya menjalankan proses penemuan pengetahuan saja tetapi secara sosial, kita dapat bermanfaat untuk ilmuwan lain, melalui metode ilmiah kita dapat mengkomunikasikan penemuan kita terhadap ilmuwan lain. Hal tersebut diperkuat oleh pernyataan Suriasumantri (1986) yang mengingatkan bahwa ilmu merupakan pengetahuan milik umum dimana teori ilmiah yang ditemukan secara individual dikaji, diulangi, dan dimanfaatkan secara komunal.

C.    Implikasi Epistemologi dalam Dunia Pendidikan
Di sisi lain, epistemologi pun berimplikasi dalam dunia pendidikan. Epistemologi diperlukan antara lain dalam hubungan dengan penyusunan dasar kurikulum. Kurikulum yang lazimnya diartikan sebagai sarana untuk mencapai tujuan pendidikan, dapat diumpamakan sebagai jalan raya yang perlu dilewati oleh siswa atau murid dalam usahanya untuk mengenal dan memahami pengetahuan agar mereka berhasil dalam mencapai tujuan perlu diperkenalkan sedikit demi sedikit hakikat dari pengetahuan (Imam Barnadib dalam Uyoh Sadulloh, 2009:87). Dalam hal ini, sebagai seorang pendidik wajib mengetahui pentingnya pemahaman akan epistemologi karena pengetahuan tersebut dapat diaplikasikan dalam dunia pendidikan yakni dalam penyusunan dasar kurikulum.
Tidak hanya itu, hasil dari penyelenggaraan pendidikan yaitu kecerdasan intelektual seperti kemampuan berkreasi untuk menciptakan segala perubahan yang berguna merupakan suatu kebenaran pendidikan secara epistemologis. Seperti yang dipaparkan oleh Suparlan (2009) bahwa kebenaran pendidikan secara epistemologis mengarah pada ouput dari seluruh rangakain pendidikan yang dpaat berguna bagi kelangsungan dan perkembagan kehidupan sehari-hari. Kebenaran itu sendiri dapat diukur melalui keberhasilan dalam menyelesaikan jenjang-jenjang pendidikan formal dan terbentuk watak maupun sikap ilmiah dari seseorang (Suparlan:2009).
Sehingga,  semua pihak yang terkait dalam dunia pendidikan sangat penting untuk mempelajari epistemologi (Adrah:2010). Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa semua pihak harus memahami epistemologi dalam filsafat pengetahuan karena dengan mempelajari hal tersebut akan mengantar kita pada cara berpikir yang rasional dan dapat mengambil keputusan dan kesimpulan secara logis dan sistematis.









                                                                    BAB III             
KESIMPULAN

Epistemologi adalah salah satu cabang dari filsafat yang mengkaji tentang cara, upaya dan langkah dalam mendapatkan pengetahuan. Cara mendapatkan pengetahuan yang benar perlu adanya langkah-langkah ilmiah yang disebut dengan metode ilmiah dengan cara berpikir gabungan antara berpikir deduktif dan induktif. Proses dalam metode ilmiah terdiri dari: perumusan masalah, penyusunan kerangka berpikir, perumusan hipotesis, pengujian hipotesis dan penarikan kesimpulan. Setelah melakukan serangkaian langkah dalam metode ilmiah, barulah di dapatkan ilmu pengetahuan yang dapat dikatakan benar. Epistemologi dalam dunia pendidikan memiliki dampak yang sangat baik terutama dalam penyusunan kurikulum, sehingga semua pihak yang terkait dalam dunia pendidikan sangatlah penting dalam memahami filsafat pengetahuan terutama kajian epistemologi.
















Daftar Pustaka

Adrah, Nirmawaty. 2010. Hakikat Filsafat Pengetahuan (Epistemologi). Jurnal Bahasa dan Sastra, Vol.II, No.5, Juli 2010. Tersedia dari: http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/251014463_2086_5511.pdf. Diakses pada 4 Januari 2013.

Astaqauliyah. 2007. Epistemologi; Pengertian, Sejarah dan Ruang Lingkup. Tersedia dari: http://Astaqauliyah.com/2007/05/epistemologi-pengertian-sejarah-dan-ruang lingkup/. Diakses pada 4 Januari 2013.

Dr. Dian. Pengantar Filsafat. UIN Sunan Gunung Djati. Bandung.

Ellis, John M. 1936. Language, Thought, and Logic. United States of America: Northwestern  University Press.

Endraswara, Suwardi. 2012. Filsafat Ilmu Konsep, Sejarah, dan Pengembangan Metode  Ilmiah. Yogyakarta: C A P S.

Junjun, Suriasumantri. 1986. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Hamied, Abdul Fuad dan Oong Komar. 2012. Filsafat Ilmu. Sekolah Pascasarjana  Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung.

Musnur, Hery. 2008. Epitemologi Pendidikan Islam:Melacak Metodologi Pengetahuan Perguruan Tinggi Islam Klasik. Jurnal Pemikiran Alternatif Pendidikan Vol.13, No.3 2008. Tersedia dari: http://filsafatpengetahuan.webs.com/apps/blog/show/5037882-epistemologi-pendidikan-islam. Diakses pada 4 Januari 2013.

Sadulloh, Uyoh. 2009. Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
             
Suhartono, Suparlan. 2009. Filsafat Pendidikan: Manusia, Filsafat, dan Pendidikan. Ar-Ruzz Media

Syahrir. 2012. Konsep Epistemologi Ibn Hazm. STAIN Datokarama Palu. Tersedia dari: http://hunafa.stain-palu.ac.id/wp-content/uploads/2012/02/2-Syahrir.pdf . Diakses pada 4 Januari 2013.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar